bla

bla
bla

Rabu, 20 November 2013

TUGAS 1 MINGGU KE 3 "BAHASA INDONESIA 2"

1. Perhatikan format daftar pustaka pada penulisan ilmiah (scientific research). Jelaskan dan berikan contoh untuk masing-masing jenis aturan yang digunakan dalam penulisan ilmiah, contohnya, System harvard, Sistem Harvard Modified, Sistem Vancouver, Sistem abjad, dan Sistem Nomor urut!

Daftar pustaka atau bibliografi yaitu daftar buku-buku serta artikel sebagai acuan atau refrensi dalam penulisan karya ilmiah. daftar pustaka umumnya diikutkan pada akhir catatan serta berperan untuk pembaca supaya bisa lihat kembali sumber asli dari refrensi karya ilmiah yang ditulis.
 berikut Cara Penulisan Daftar Pustaka:


1. penyusunan urutan daftar pustaka menurut alfabet yang dengan berturut-turut dari atas ke bawah, tanpa memakai angka ( , 2, 3, dan sebagainya )

2. dalam penulisan daftar pustaka butuh di perhatikan banyak hal di bawah ini :
menulis nama pengarang ( nama pengarang sisi belakang terlebih dulu ditulis, lantas diikuti dengan nama depan )
catat tahun terbit buku, sesudah itu diberi sinyal titik (. )
catat tahun terbit buku memberikan garis bawah atau cetak miring. sesudah judul buku lantas diberikan sinyal titik (. )
catat kota terbit serta nama penerbitnya. pada ke-2 sisi tersebut diberi sinyal titik dua ( : ), setelah nama penerbit diberikan sinyal titik (. )

3. apabila dapat dipakai dua sumber pustaka atau lebih dengan pengarang yang sama, maka sumber dirilis dari buku yang terlebih dulu terbit, lantas diikuti dengan buku yang baru terbit. pada ke-2 sumber pustaka itu dibubuhkan sinyal garis panjang.

4. apabila daftar pustaka datang dari sumber internet, maka bisa ditulis layaknya yang dianjurkan oleh sophia ( 2002 ), di mana komponen bibliografi online tersebut ditulis seperti berikut :
nama pengarang
tanggal revisi terakhhir
judul makalah
media yang memuat
url yang terdiri dari protocol/situs/path/file
tanggal akses

5. penulisan daftar pustaka dalam pengambilan data dari buku, pertama ; penulisan nama untuk awal memakai huruf besar terlebih dulu sesudah nama belakang ditulis beri ( sinyal koma ), diawali dari nama belakang lantas beri ( sinyal koma ) serta dilanjutkan dengan nama depan, ke-2 ; tahun pembuatan atau penerbitan buku, ketiga ; judul bukunya ingat ditulis unakan huruf miring sesudah judul pakai ( sinyal titik ), keempat ; area diterbitkannya sesudah area penerbitan pakai ( sinyal titik dua ), serta kelima ; penerbit buku tersebut diakhiri dengan ( sinyal titik ). layaknya perumpamaan di bawah ini :
peranginangin, kasiman ( 2006 ). aplikasi situs dengan php serta mysql. yogyakarta : penerbit andi offset.
soekirno, harimurti ( 2005 ). langkah gampang menginstall situs server berbasis windows server 2003. jakarta : elex media komputindo.

6. penulisan daftar pustaka yang kian lebih satu/dua orang penulis dalam buku yang sama. pertama catat nama belakang dari penulis yang pertama sesudah nama belakang beri ( sinyal koma ) lantas catat nama depan bila nama depan berbentuk singkatan catat saja singkatan itu sesudah nama pertama selesai beri ( sinyal titik ) lantas beri ( sinyal koma ) untuk nama ke-2 / ketiga ditulis sama layaknya nama sali alis tak ada pergantian, yang beralih penulisannya cuma orang pertama namun orang ke-2 serta ketiga terus. sesudah penulisan nama ke-2 selesai, nah bila tiga penulis pakai sinyal serta ( & ) pada nama paling akhir begitupula bila penulisnya cuma dua orang saja, sesudah penulisan nama selesai, ke-2 ; tahun pembuatan atau cetakan buku tersebut dengan dimulai sinyal kurung buka serta kurung tutup/ ( ) sesudah itu beri ( sinyal titik ). ketiga ; judul buku atau karangan sesudah itu beri ( sinyal koma ) serta ditulis dengan huruf miring ok. keempat ; yakni penulisan area penerbitan/cetakan sesudah itu beri ( sinyal titik dua : ) serta paling akhir kelima ; nama perusahaan penerbit buku atau catatan tersebut serta diakhiri ( sinyal titik ) ok. untuk gelar akademik tidak ditulis dalam penulisan daftar pustaka. nah ini perumpamaannya layaknya di bawah ini :
suteja, b. r., sarapung, j. a, & handaya, w. b. t. ( 2008 ). memasuki dunia e-learning, bandung : penerbit informatika.

whitten, j. l., bentley, l. d., dittman, k. c. ( 2004 ). systems analysis and design methods. indianapolis : mcgraw-hill education


Penulisan Daftar Pustaka Berdasarkan Harvard Style

Gaya penulisan daftar pustaka menururut APA (American Psychlogical Association) adalah gaya yang mengikuti format Harvard. Beberapa ciri penulisan daftar pustaka dengan APA style adalah :
1.     Tanggal publikasi dituliskan setelah nama pengarang.
2.     Referensi di dalam isi tulisan mengacu pada item di dalam daftar pustaka dengan cara menuliskan nama belakang (surname) pengarang diikuti tanggal penerbitan yang dituliskan di antara kurung.
3.     Urutan daftar pustaka adalah berdasarkan nama belakang pengarang. Jika suatu referensi tidak memiliki nama pengarang maka judul referensi digunakan untuk mengurutkan referensi tersebut diantara referensi lain yang tetap diurutkan berdasarkan nama pengarang.
4.     Daftar pustaka tidak dibagi-bagi menjadi bagian-bagian berdasarkan jenis pustaka, misalnya buku, jurnal dan sebagainya.
5.     Judul referensi dituliskan secara italic. Jika daftar pustaka ditulis tangan maka judul digaris bawahi.
Berdasarkan jenis referensi, berikut ini adalah panduan dan contoh penulisan daftar pustaka berdasarkan APA Style:
Buku
Pola dasar penuisan referensi berjenis buku adalah :
Nama belakang pengarang, Inisial, (tahun penerbitan). Judul buku (Edisi jika edisinya lebih dari satu). Tempat diterbitkan: Penerbit

Yang perlu diperhatikan adalah judul buku yang dituliskan secara italic dengan penggunaan huruf kapital mengikuti standar penulisan kalimat. Jumlah pengarang yang boleh di daftarkan di satu referensi maksimal berjumlah enam. Jika pengarang berjumlah dari enam maka pengarang ketujuh dan selanjutnya di tuliskan sebagai et al.
Contoh :
Bray, J., & Sturman, C. (2001). Bluetooth: connect without wires. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
Foruzan, B.A., & Fegan, S.C. (2007). Data communications and net working (4th ed.). New York: McGraw-Hill.
penulisan buku dengan editor disertai (Ed.) untuk satu editor dan (Eds.) untuk lebih dari satu editor.

Artikel jurnal
Pola dasar penulisan referensi berjenis artikel jurnal adalah:
Nama Belakang Pengarang, Inisial. (tahun penerbitan). Judul artikel. Judul Jurnal, Nomor volume – jika ada (Nomor Issue), nomor halaman awal dan akhir artikel.
Yang perlu diperhatikan adalah penulisan judul artikel dan judul jurnal. Huruf kapital pada penulisan judul artikel digunakan mengikuti standar penulisan kalimat. Huruf kapital pada penulisan judul jurnal dituliskan mnuruti standar penulisan judul. Hanya judul jurnal yang dituliskan secara italic.
Contoh:

Tseng, Y.C., Kuo, S.P., Lee, H.W., & Huang, C.F., (2004). Location tracking in a wireless sensor network by mobile agents and its data fusion strategies. The computer jurnal, 47(4), 448-460
Paper yang di terbitkan di dalam proceding
Pola penulisan referensi berjenis paper adalah :
Nama belakang pengarang, Inisial. (tahun penerbitan). Judul artikel. In Inisial editor nama belakang editor (Ed)., Judul procedings (pp. Halaman awal-halaman akhir). Tempat penerbitan: penerbit.

Contoh:

Fang, Q., Zhao, F., & Gulbas, L. (2003). Lightweight sensing and communication protocols for target enumeration and aggregation. In M. Gerla, A. Ephiderides, &M. Srivasta (Eds), MobiHoc 03 fourth ACM symposium on mobile ad hoc networking and computing (pp. 165-176). New York, NY: ACM Press.

Halaman web

Pola dasar penulisan referensi berjenis halaman web adalah :
Nama belakang pengarang, inisial.(tahun situs diproduksi atau tahun penerbitan dokumen). Judul dokumen. Retrivied from situs sumber
Aturan-aturan lain adalah :
1.     Jika tangggal tidak ada maka gunakan n.d.
2.     Jika nama pengarnag tidak ada maka nama organisasi bisa dituliskan sebagai pengarang.
3.     Jika pengarang sama sekali tidak ada maka awal referensi dengan judul dokumen
4.     Jika dokumen tersebut merupakan bagian dari situs web yang besar maka sebutkan nama organisasi dan departemen yang bersangkutan diikuti karakter: dan alamat situs.

Contoh:
Banks, I. (n.d). The NHS Direct healthcare guide. Retrieved from
alexander, J., & Tate, M. A. (2001). Evaluating web resource. Retrieved from Widener University, wolfgram Memorial Library Website:


Penulisan Daftar Pustaka menurut sistem Vancouver

Langkah-langkah dalam cara menulis daftar pustaka dengan metode Vancouver adalah sebagai berikut:
1.     Menggunakan bullet angka
2.     Angka tersebut menjadi rujukan dalam sitasi sebuah karya tulis yang dibuat
3.     Nomor rujukan (referensi) yang ada di dalam karya tulis itu harus sama dengan urutan penulis yang ada dalam daftar pustaka
4.     Tidak perlu mengurutkan tahun publikasi tulisan
5.     Nama tidak perlu diurutkan berdasarkan alfabetis

Contoh cara menulis daftar pustaka dengan metode vancouver:
1.     Grinpson L. Bakalar JB. Marihuana: the Forbidden Medicine. London: Yale Univ Pr: 1993
2.     Feinberg TE, Farah MJ, editors. BehaviouralNeurology and Neuropsycology. Ed ke2. New York : McGraw-Hill: 1997
3.     Grimes EW. A use of freeze-dried bone in Endodontic. J Endod 1994: 20 :335-6



            blog.trisakti.ac.id/jetri/pedoman-penulisan-artikel-ilmiah

Jumat, 18 Oktober 2013

TUGAS PENALARAN


 BAHASA INDONESIA 2
TUGAS PENALARAN

KELOMPOK
·         Bianca Oktavia                                                                                                                                   (21211478)
·         Muhammad Rizky F                                                                                                                        ( 24211964)
·         Siti Aisyah                                                                                                                                            (26211798)


1.       Mengapa fungsi komunikasi bahasa disebut fungsi dasar? Mengapa pula disebut fungsi utama?

Jawaban :

Menurut Gorys Keraf (1997 : 1), Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Oleh karena itu, bahasa menjadi sangat penting untuk kegiatan berkomunikasi saat ini. Bahasa merupakan alat yang dapat diterima oleh semua pihak dibelahan dunia manapun, jika bahasa yang kita gunakan disini bahasa resmi internasional. Dalam berkomunikasi ada 3 hal yang harus diperhatikan, yaitu komunikator (penyampai berita/pesan), komunikan (penerima berita/pesan), dan berita atau pesan itu sendiri.  Jika dikaitan dengan pengertian dari Gorys Keraf, dimisalkan ada seorang komunikator yang hendak menyampaikan pesan kepada komunikan. Namun, sang komunikan disini tidak menggunakan simbol yang sama dengan yang dipakai oleh sang komunikator. Kemudian apakah yang terjadi? Apakah tujuan komunikator yang hendak menyampaikan pesan terselesaikan? Jawabannya bisa “iya” bisa juga “tidak”. Sang komunikan bisa saja mendapatkan pesan yang tidak sesuai dengan yang hendak komunikator sampaikan. Oleh sebab itu, disinilah peran bahasa sebagai fungsi komunikasi yang juga merupakan fungsi utama yang sangat penting mengingat dalam keseharian kita hampir dipastikan selalu berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal.

2.       Apa fungsi alami dan fungsi buatan bahasa?

Jawaban :

Menurut Gorys Keraf, pada dasarnya bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang, yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, sebagai alat untuk berkomunikasi, sebagai alat untuk mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial.

Seiring dengan perkembangan zaman bahasa juga mulai berkembang sebagai sarana pendukung pertumbuhan dan perkembangan budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi.  Secara tidak langsung bahasa ikut berperan di dalam dunia persaingan bebas, baik di bidang politik, ekonomi maupun komunikasi. Tanpa adanya bahasa, bidang-bidang taditidak mungkin tumbuh dan berkembang, begitu pula sebaliknya.

a.       Bahasa sebagai Alat Ekspresi Diri

Pada awalnya, seorang anak menggunakan bahasa untuk mengekspresikan kehendaknya atau perasaannya pada sasaran yang tetap, yakni ayah-ibunya. Dalam perkembangannya, seorang anak tidak lagi menggunakan bahasa hanya untuk mengekspresikan kehendaknya, melainkan juga untuk berkomunikasi dengan lingkungan di sekitarnya. Setelah kita dewasa, kita menggunakan bahasa, baik untuk mengekspresikan diri maupun untuk berkomunikasi. Seorang penulis mengekspresikan dirinya melalui tulisannya. Sebenarnya, sebuah karya ilmiah pun adalah sarana pengungkapan diri seorang ilmuwan untuk menunjukkan kemampuannya dalam sebuah bidang ilmu tertentu. Jadi, kita dapat menulis untuk mengekspresikan diri kita atau untuk mencapai tujuan tertentu.
Sebagai contoh lainnya, tulisan kita dalam sebuah buku,  merupakan hasil ekspresi diri kita. Pada saat kita menulis, kita tidak memikirkan siapa pembaca kita. Kita hanya menuangkan isi hati dan perasaan kita tanpa memikirkan apakah tulisan itu dipahami orang lain atau tidak. Akan tetapi, pada saat kita menulis surat kepada orang lain, kita mulai berpikir kepada siapakah surat itu akan ditujukan. Kita memilih cara berbahasa yang berbeda kepada orang yang kita hormati dibandingkan dengan cara berbahasa kita kepada teman kita.

Pada saat menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan diri, si pemakai bahasa tidak perlu mempertimbangkan atau memperhatikan siapa yang menjadi pendengarnya, pembacanya, atau khalayak sasarannya. Ia menggunakan bahasa hanya untuk kepentingannya pribadi. Fungsi ini berbeda dari fungsi berikutnya, yakni bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi.
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita, sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain :
·         agar menarik perhatian orang  lain terhadap kita,
·         keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi
Pada taraf  permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang  sebagai alat untuk menyata.kan dirinya sendiri (Gorys Keraf, 1997 :4).


b.       Bahasa sebagai Alat Komunikasi

Komunikasi merupakan akibat yang lebih jauh dari ekspresi diri. Komunikasi tidak akan sempurna bila ekspresi diri kita tidak diterima atau dipahami oleh orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang-orang yang sezaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan memungkinkan kita menciptakan kerja sama dengan sesama warga. Ia mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, merencanakan dan mengarahkan masa depan kita (Gorys Keraf, 1997 : 4).

Pada saat kita menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi, kita sudah memiliki tujuan tertentu. Kita ingin dipahami oleh orang lain. Kita ingin menyampaikan gagasan yang dapat diterima oleh orang lain. Kita ingin membuat orang lain yakin terhadap pandangan kita. Kita ingin mempengaruhi orang lain. Lebih jauh lagi, kita ingin orang lain membeli hasil pemikiran kita. Jadi, dalam hal ini pembaca atau pendengar atau khalayak sasaran menjadi perhatian utama kita. Kita menggunakan bahasa dengan memperhatikan kepentingan dan kebutuhan khalayak sasaran kita.

Pada saat kita menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, antara lain kita juga mempertimbangkan apakah bahasa yang kita gunakan laku untuk dijual. Oleh karena itu, seringkali kita mendengar istilah “bahasa yang komunikatif”. Misalnya, kata makrohanya dipahami oleh orang-orang dan tingkat pendidikan tertentu, namun kata besaratau luaslebih mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Kata griya, misalnya, lebih sulit dipahami dibandingkan kata rumahatau wisma. Dengan kata lain, kata besar, luas, rumah, wisma, dianggap lebih komunikatif karena bersifat lebih umum. Sebaliknya, kata-kata griya atau makroakan memberi nuansa lain pada bahasa kita, misalnya, nuansa keilmuan, nuansa intelektualitas, atau nuansa tradisional.

Bahasa sebagai alat ekspresi diri dan sebagai alat komunikasi sekaligus pula merupakan alat untuk menunjukkan identitas diri. Melalui bahasa, kita dapat menunjukkan sudut pandang kita, pemahaman kita atas suatu hal, asal usul bangsa dan negara kita, pendidikan kita, bahkan sifat kita. Bahasa menjadi cermin diri kita, baik sebagai bangsa maupun sebagai diri sendiri.

c.        Bahasa sebagai Alat Integrasi dan Adaptasi Sosial

Bahasa disamping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang-orang lain. Anggota-anggota masyarakat  hanya dapat dipersatukan secara efisien melalui bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi, lebih jauh memungkinkan tiap orang untuk merasa dirinya terikat dengan kelompok sosial yang dimasukinya, serta dapat melakukan semua kegiatan kemasyarakatan dengan menghindari sejauh mungkin bentrokan-bentrokan untuk memperoleh efisiensi yang setinggi-tingginya. Ia memungkinkan integrasi (pembauran) yang sempurna bagi tiap individu dengan masyarakatnya (Gorys Keraf, 1997 : 5).
Cara berbahasa tertentu selain berfungsi sebagai alat komunikasi, berfungsi pula sebagai alat integrasi dan adaptasi sosial. Pada saat kita beradaptasi kepada lingkungan sosial tertentu, kita akan memilih bahasa yang akan kita gunakan bergantung pada situasi dan kondisi yang kita hadapi. Kita akan menggunakan bahasa yang berbeda pada orang yang berbeda. Kita akan menggunakan bahasa yang nonstandar di lingkungan teman-teman dan menggunakan bahasa standar pada orang tua atau orang yang kita hormati.

Pada saat kita mempelajari bahasa asing, kita juga berusaha mempelajari bagaimana cara menggunakan bahasa tersebut. Misalnya, pada situasi apakah kita akan menggunakan kata tertentu, kata manakah yang sopan dan tidak sopan. Bilamanakah kita dalam berbahasa Indonesia boleh menegur orang dengan kata Kamu atau Saudara atau Bapak atau Anda?Bagi orang asing, pilihan kata itu penting agar ia diterima di dalam lingkungan pergaulan orang Indonesia. Jangan sampai ia menggunakan kata kamu untuk menyapa seorang pejabat. Demikian pula jika kita mempelajari bahasa asing. Jangan sampai kita salah menggunakan tata cara berbahasa dalam budaya bahasa tersebut. Dengan menguasai bahasa suatu bangsa, kita dengan mudah berbaur dan menyesuaikan diri dengan bangsa tersebut.

d.      Bahasa sebagai Alat Kontrol Sosial

Sebagai alat kontrol sosial, bahasa sangat efektif. Kontrol sosial ini dapat diterapkan pada diri kita sendiri atau kepada masyarakat. Berbagai penerangan, informasi, maupun pendidikan disampaikan melalui bahasa. Buku-buku pelajaran dan buku-buku instruksi adalah salah satu contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial.

Ceramah agama atau dakwah merupakan contoh penggunaan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Lebih jauh lagi, orasi ilmiah atau politik merupakan alat kontrol sosial. Kita juga sering mengikuti diskusi atau acara bincang-bincang (talk show) di televisi dan radio. Iklan layanan masyarakat atau layanan sosial merupakan salah satu wujud penerapan bahasa sebagai alat kontrol sosial. Semua itu merupakan kegiatan berbahasa yang memberikan kepada kita cara untuk memperoleh pandangan baru, sikap baru, perilaku dan tindakan yang baik. Di samping itu, kita belajar untuk menyimak dan mendengarkan pandangan orang lain mengenai suatu hal.

Contoh fungsi bahasa sebagai alat kontrol sosial yang sangat mudah kita terapkan adalah sebagai alat peredam rasa marah. Menulis merupakan salah satu cara yang sangat efektif untuk meredakan rasa marah kita. Tuangkanlah rasa dongkol dan marah kita ke dalam bentuk tulisan. Biasanya, pada akhirnya, rasa marah kita berangsur-angsur menghilang dan kita dapat melihat persoalan secara lebih jelas dan tenang.

Sumber :

3.       Apa yang dimaksud dengan metakomunikasi?
Jawaban :
Metakomunikasi adalah jenis komunikasi non-verbal yang dapat dilihat melalui gerak tubuh, kedipan mata, sentuhan dan lain-lain. Metakomunikasi memunculkan makna baru diluar tujuan proses komunikasi. Metekomunikasi adalah komunikasi yang tidak biasa. Kita bisa mengetahui pesan yang ingin disampaikan hanya dengan bahasa tubuh. Namun, bahasa tubuh tadi belum cukup karena harus ada konteks historis atau relasi antar komunikan.
Sumber :

Selasa, 01 Oktober 2013

TUGAS BAHASA INDONESIA 2



CONTOH SOAL SINONIM
1.       TUKAK.....
A.      Sakit
B.      Borok
C.      Parah
D.      Tuli
JAWABAN : Tukak adalah sejenis penyakit kulit jadi sinonim dari tukak adalah borok
2.       ENTITAS....
A.      Jumlah
B.      Wujud
C.      Tak terbatas
D.      Sumbangsih
JAWABAN:  wujud
3.       IMPRESI...
A.      Pesan
B.      Kiasan
C.      Kesan
D.      Wujud
JAWABAN: kesan
4.       INGSUT.....
A.      Bergeser
B.      Keluar
C.      Jatuh
D.      Perlahan
JAWABAN: INGSUT artinya bergeser sedikit-sedikit jadi jawabannya adalah bergeser
5.       SAHIH....
A.      Valid
B.      Resmi
C.      Suci
D.      Tepat
JAWABAN: sahih berarti benar, sempurna sesuai dengan hukum (valid) jawabannya A




CONTOH SOAL ANTONIM
1.       INSINUASI....
A.      Terang-terangan
B.      Rayuan
C.      Caci maki
D.      Pujian
JAWABAN : TUDUHAN TERSELUBUNG >< TERANG-TERANGAN (A)
2.       RABUN....
A.      Tajam
B.      Terang
C.      Jelas
D.      Tepat
JAWABAN: KABUR (PENGELIHATAN) >< JELAS (C)
3.       GENERIK....
A.      Mahal
B.      Khusus
C.      Ampuh
D.      Individu
JAWABAN : UMUM >< KHUSUS (B)
4.       NAAS...
A.      Untung
B.      Celaka
C.      Rugi
D.      Baik
JAWABAN : NAHAS=SIAL,CELAKA >< UN TUNG (A)
5.       SURAI....
A.      BERHIMPUN
B.      BERTEMU
C.      AKHIR
D.      MENGALAH
JAWABAN : BERCERAI BERAI >< BERHIMPUN (A)




CONTOH SOAL ANALOGI
1.       PALU : BATU ....
A.      Jangka : lingkaran
B.      Pedang : kayu
C.      Mistar : ukuran
D.      Kertas : buku
JAWABAN : (B) palu untuk memecah batu pedang  untuk memecah kayu
2.       KACANG : KULIT ....
A.      Rambut : topi
B.      Rumah : halaman
C.      Hadiah : bingkisan
D.      Buku : sampul
JAWABAN : (D) bagian luar kacang itu kulit bagian luar buku itu sampul
3.       HUJAN : AIR....
A.      Banjir : bandang
B.      Badai : angin
C.      Gempa : bumi
D.      Bulan : satelit
JAWABAN : (B) hujan karena air badai karena angin
4.       BENCI : MARAH ....
A.      Suka : sayang
B.      Main : senang
C.      Tidur : lelap
D.      Sakit : hati
JAWABAN : (A) kebencian menimbulkan kemarahan, suka menimbulkan sayang
5.       TIRAI : JENDELA....
A.      Kunci : pintu
B.      Tikar : lantai
C.      Gorden : ruang tamu
D.      Sprei : kasur
JAWABAN : (B) tirai menutup jendela, sprei menutup kasur




CONTOH SOAL LOGIKA
INFORMASI DIBAWAH INI UNTUK MENJAWAB SOAL NO. 1-5
Sebuah developer perumahan memutuskan untuk membangun lima rumah ekslusif untuk klien mereka yang paling setia. Perumahan itu akan dibangun di lahan antara sebuah sungai dan jalan raya. Amir akan menempati rumah yang di tengah. Firman, yang senang mendengar gemericik air sungai, akan menempati rumah b erwarna hijau. Bila andi akan menempati rumah yang berwarna merah dan budi akan menempati rumah kedua dari jalan raya yang berada di samping rumah andi, maka.........
1.       Dimanakah Hasan akan menempati rumahnya ....
A.      Rumah kedua dari jalan
B.      Rumah pertama dari sungai
C.      Rumah kedua dari sungai
D.      Rumah pertama dari jalan
JAWABAN : (C) rumah kedua dari sungai
2.       Siapakah yang akan menempati rumah yang paling dekat dengan jalan raya ....
A.      BUDI
B.      ANDI
C.      AMIR
D.      FIRMAN
JAWABAN : (B) ANDI
3.       Bila rumah yang berwarna biruberada di samping rumah Hasan , maka rumah milik siapakah itu....
A.      Amir
B.      Budi
C.      Firman
D.      Andi
JAWABAN : (A) amir
4.       Rumah yang berwarna ungu diapit oleh rumah yang berwarna merah dan rumah amir, siapakah yang memiliki rumah yang berwarna ungu ini....
A.      Hasan
B.      Budi
C.      Andi
D.      Firman
JAWABAN : (B) BUDI


5.       Dan milik siapakah rumah yang berwarna kuning....
A.      FIRMAN
B.      BUDI
C.      ANDI
D.      HASAN
JAWABAN : (D) HASAN
PENJELASAN :
JALAN RAYA
ANDI (MERAH)
BUDI (UNGU)
AMIR (BIRU)
HASAN (KUNING)
FIRMAN (HIJAU)
SUNGAI